Monthly Archives: November 2013

Mengirim Parcel 41,8 Kg dari Padang ke Bandung Rp. 672 rb

Hanya sekedar berbagi pengalaman saja. Hari sabtu kemarin, 9 November 2013 sewaktu sang Istri pulang ke Padang, menyempatkan untuk mengirim barang-barang aset kita yang masih belum terangkut semua ke Bandung. Menggunakan jasa ekspedisi JNE dari Padang ke Bandung, untuk berat total semua parcel sekitar 41,8 kg, harganya sekitar 672rb. Cukup mahal juga ya ternyata. Tapi ya mau bagaimana lagi, kita sendiri juga yang perlu.

Bukti Pengiriman

Bukti Pengiriman

 

Pada hari senin siang 11 November saya di telp oleh pihak JNE menginformasikan bahwa ada paket yang akan disampaikan ke rumah. Waktu itu saya informasikan bahwa baru bisa ada dirumah sekitar jam 15.00 sore karena pulang kantor jam 13.30. Walaupun cukup mahal, tapi alhamdulillah barang aset tersebut dapat diterima dengan baik pada senin sore.

Parcelnya Tiga  Dus Besar

Parcelnya Tiga Dus Besar

 

 

Salah satu isi parcel

Salah satu isi parcel

 

 

Sekitar 300 angkot dari Ujung Berung sampai Dipatiukur

Hari ini sewaktu Saya berangkat kerja, seperti biasa dihadapkan dengan kondisi yang padat disepanjang perjalanan dari daerah Ujung Berung sampai Dago. Banyaknya kendaraan yang memadati jalan dari arah Bandung timur, memang didominasi oleh kendaraan bermotor roda dua. Tetapi selain itu, keberadaan angkutan kota (angkot) juga lumayan banyak. Saya sengaja tadi pagi sewaktu berangkat ke kantor menghitung setiap angkot yang berpapasan dengan Saya, walaupun searah maupun beda arah. Konsentrasi saya pun bisa dikatakan terpecah, harus waspada dengan kondisi yang ada di depan, serta berusaha untuk menghitung angkot yang berpapasan.

Hasilnya, hasil penghitungan yang saya lakukan terhadap jumlah angkot yang saya temui mulai dari kawasan pertigaan Cijambe sampai dengan depan kantor di Jalan Dipatiukur, berjumlah kurang lebih 300 angkot. Apabila setiap angkot panjangnya sekitar 3,3 meter, maka kalau dihitung total angkot yang 300 tadi bisa sampai bisa 990 meter. Hampir 1km. Wow, banyak dan panjang juga ternyata ya. Itu hanya kalau angkot dari kawasan Bandung Timur saja. Coba bayangkan, berapa total angkot yang ada di Kota Bandung saat ini ya?

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu sumber kemacetan lalu lintas di Kota Bandung adalah banyaknya kendaraan yang ada tidak dapat diimbangi dengan fasilitas jalan raya yang tersedia. Saya tidak menyalahkan keberadaan angkot yang banyak tadi, karena angkot juga sangat bermanfaat sebagai sarana transportasi yang bisa diandalkan. Banyak angkot boleh, asalkan tertib saja dan tidak ngetem sembarangan.

Saya pribadi juga sering marah-marah (dalam hati tentunya), apabila banyak angkot yang ngetem sembarangan. Tentunya menyebabkan kecametan karena memakan space ruang jalan raya yang lumayan banyak. Tetapi dalam satu sisi Saya juga paham alasan mereka kenapa sering ngetem, ya apalagi kalau untuk menunggu penumpang. Kalau penumpangnya sedikit, ongkos operasional angkot akan lebih besar daripada pemasukan yang didapat. Ah, lagi-lagi berujung pada masalah “Uang”. Memang sih, uang itu bukan segalanya. Tapi semua perlu uang bukan? sama juga dengan para Supir Angkot yang pasti perlu uang untuk menghidupi keluarganya.

Entahlah siapa yang salah. Apabila dilihat dari sisi sebagai pengendara motor, keberadaan roda empatlah (termasuk angkot dan kendaraan lain) yang salah karena terlalu banyak memenuhi jalan raya. Belum lagi kendaraan roda empat tersebut sering terlihat parkir sembarangan di bahu jalan. Tetapi apabila dilihat dari sisi sebagai pengendara kendaraan roda empat, para pengendara motor juga sering ugal-ugalan, membahayakan dan sering tidak tertib, menyerobot jalur punya orang lain seenaknya. Bahkan salah satu teman saya yang sehari-hari berangkat ke kantor menggunakan mobil, merasa jengkel dengan gaya berkendara para pengendara motor. Seperti lalat hijau katanya. Hm, iya juga sih :D

Jadi, siapa yang salah? Ah biar tidak saling menyalahkan, kita salahkan saja “Uang”, Okey ?

Waktu Untuk Melakukan Penelitian

Tugas utama seorang Dosen yaitu melakukan Tridharma Pendidikan yang meliputi melakukan pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga tugas tersebut biasanya berjalan timpang, karena tidak seimbang antara porsi pembagian waktu untuk melakukan pendidikan/pengajaran dengan waktu untuk melakukan penelitian. Hal tersebut terjadi karena ada beberapa Dosen yang diberi tugas untuk mengajar yang cukup banyak, sehingga otomatis waktunya akan berlebih untuk digunakan dalam hal mengajar. Apabila sudah terjadi seperti demikian, lantas bagaimana seorang Dosen melakukan penelitian?

Seminggu ini di kantor Saya sedang dilaksanakan Ujian Tengah Semester. Ujian tersebut dilaksanakan dalam dua minggu, berdasarkan ruangan kelas yang digunakan. Apabila ruangan kelas perkuliahannya bernomor ganjil, misal R.5403, maka ujian dilaksanakan pada minggu pertama. Apabila kelasnya bernomor genap, misal R.4404, maka ujian dilaksanakan pada minggu kedua.

Adanya waktu kosong walau hanya seminggu ini, Saya harus pintar-pintar untuk menggunakannya dalam hal penelitian. Ya, penelitian memang perlu untuk peningkatan karir sebagai seorang Dosen. Apalagi kalau penelitian tersebut memang didanai oleh pihak Universitas ataupun Dirjen Dikti. Bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan seorang Dosen. Untuk itu, saat ini ada beberapa penelitian yang sedang saya lakukan, diantaranya adalah mempersiapkan paper penelitian untuk seminar di Yogyakarta, menyelesaikan penelitian intern UNIKOM yang memang telah dibiayai. Ah, laporan penelitiannya belum beres, uangnya sudah ‘beres’ digunakan, hehe. Ya begitulah kenyataanya.

Selain penelitian tersebut, Saat ini juga Saya harus mempersiapkan proposal penelitian hibah dari Dikti. Semoga saja bisa selesai dalam waktu dekat ini, dan disetujui untuk didanai oleh Dikti. Tidak dapat dipungkiri bahwa konsep penelitian ini selain dapat menambah pengetahuan keilmuan, juga dapat meningkatkan kesejahteraan seorang Dosen, karena dalam proposal pengajuan dana penelitian tersebut juga ada rincian biaya untuk fee para peneliti. Jadi, gaji pokok seorang Dosen memang kecil, tetapi Alhamdulillah insyaAllah tidak ada yang sampai kekurangan.Tahu kan kenapa ?

Sendok Makan Saat Ini Tipis, Ringan dan Gampang Bengkok

Saya memang sewaktu makan berat harus menggunakan sendok, dimanapun itu dan apapun yang Saya makan memang selalu menggunakan sendok. Kecuali apabila saya makan bersama keluarga istri di Padang, terpaksa saya makan harus menggunakan tangan secara langsung. Hal tersebut karena semua keluarga dari Istri apabila makan memang tidak pernah pakai sendok. Daripada saya berbeda sendirian ya terpaksa mengikuti saja. Terlebih lagi kalau di Minang memang makan nya selalu ada daging dan rendang yang mana memang repot jadinya kalau menggunakan sendok. Menurut saya makan pakai sendok itu simpel, tidak perlu repot mencuci tangan setelah makan. Ah mungkin saya aja ya yang malas untuk bersih-bersih, hihi :)

Bermula dari kebiasaan Saya sewaktu makan harus menggunakan sendok tersebut, Saya perhatikan sendok makan sekarang ini kenapa pada tipis, ringan dan gampang bengkok ya? sangat berebeda sekali dengan sendok makan waktu dulu yang cukup tebal, cukup berat dan tidak gampang bengkok. Saya masih menyimpan beberapa sendok pemberian dari Ibu, kualitasnya sangat berebeda dengan sendok saat ini. Ditekan sedikit saja kalau yang sekarang sudah bengkok. Sehingga jauh lebih baik sendok yang dulu pastinya. Saya perhatikan, beberapa sendok makan yang ada di kantor pun semuanya pada tipis, bahkan karena tipisnya terasa agak tajam di setiap pinggir sendok ketika saya pegang. Sewaktu makanpun harus berhati-hati sekarang, kalau tidak bisa terluka.

Sendok yang gampang bengkok

Sendok yang gampang bengkok

Bismillah. Selamat makan.

Libur kerja hari ini, bukan untuk liburan

Banyaknya aktivitas yang harus Saya lakukan di hari libur ini, membuat waktu untuk menulis di blog juga menjadi sedikit. Sebenarnya waktunya masih banyak, tetapi waktu yang tersedia tersebut akan Saya gunakan untuk tidur saja. Supaya esok hari bisa fit memberikan yang terbaik untuk para mahasiswa/i.

Pengalaman Duduk di Samping Pintu Darurat Pesawat

Untuk duduk disamping pintu darurat pesawat ternyata tidak bisa sembarang orang. Penumpang yang duduk disamping tersebut memang harus yang bisa dan memenuhi persyaratan tertentu yang diantaranya adalah, mampu untuk membantu evakuasi dengan cara membuka pintu darurat pesawat apabila terjadi kecelakaan. Pengalaman duduk disamping pintu darurat Saya alami sewaktu melakukan penerbangan dari Padang menuju Jakarta, menggunakan pesawat Lion Air type Boeing 737-800 NG. Panduan keselamatan pesawat pun sedikit berbeda dengan panduan yang ada di kursi selain samping pintu darurat. Dalam buku panduan tersebut memang dijelaskan tata cara untuk melakukan evakuasi dengan membuka pintu darurat pesawat ketika terjadi kecelakaan.

Pintu Darurat Pesawat

Pintu Darurat Pesawat Boeing 737-800 NG

Diberikan tugas tambahan untuk menjadi pembuka pintu darurat pesawat, ternyata diberi fasilitas yang lebih baik. Ruang untuk kedua kaki diberikan cukup lebar. Bisa selonjoran karena jarak dengan kursi depan memang cukup lega. Sama saja, terdapat jendela disamping kursi tersebut, namun perbedaannya adalah cara menutup jendela penutupnya ditarik dari bawah ke atas, berbeda dengan penutup jendela di kursi yang lain dimana untuk menutupnya justru dari atas ke bawah. Kalau seperti ini, Saya mau dong apabila setiap terbang duduknya selalu di samping pintu darurat pesawat. Hehe..

 

4 Hari, 4 Kota, 4 Provinsi, 2 Pulau

Liburan Idul Adha 2013 ini, memang benar-benar Saya gunakan untuk liburan. Selama empat hari, mulai dari hari Sabtu, 12 Agustus 2013 sampai Rabu, 15 Agustus 2013, traveling 4 kota, 4 provinsi dan 2 pulau. Bandung (Prov. Jawa Barat ) -> Pekanbaru (Prov. Riau) -> Padang (Prov. Sumatera Barat) dan terakhir Jakarta (Prov. DKI – Jakarta).

Berangkat dari Bandung jam 06.20 menggunakan pesawat maskapai Air Asia menuju Pekanbaru. Tiba di Pekanbaru sekitar jam 08.

Indonesia Air Asia Bandung - Pekanbaru

Indonesia Air Asia Bandung – Pekanbaru

Setelah itu, melakukan perjalanan darat dari pekanbaru menuju padang. Lumayan jauh juga ternyata, sekitar 7 jam perjalanan darat. Sama seperti Bandung-Yogyakarta. Perjalanan dari Pekanbaru menuju Padang akan melintasi jalan kelok sembilan yang pemandangannya memang sungguh rancak bana.

Jembatan Kelok 9 yang baru

Jembatan Kelok 9 yang baru

Kembali lagi hari Rabu, 15 Agustus 2013 dari Padang menggunakan pesawat Lion Air menuju Jakarta. Berangkat dari Padang jam 18.30 (delay 1 jam), sampai di Jakarta sekitar jam 20.30an.

Lion Air Padang - Jakarta

Lion Air Padang – Jakarta

Berangkat menuju kota Bandung jam 22.00 dari terminal 1B menggunakan travel X-Trans. Sepanjang perjalanan walau badan capek tetapi tidak bisa tidur, karena perjalanan ke Bandung pak sopir memacu kendaraannya dengan sangat cepat. Mungkin karena waktu itu jalan tol dari kawasan Tol Bandara-Pasteur lengang. Bayangkan, sekitar jam 22.30 masih di pintu tol Cengkareng (sekitar 30 menit dari 1B bandara menuju pintu tol cukup ramai), sampai di Pasteur jam 00.00 tengah malam. Bisa dihitung, Jakarta – Bandung waktunya kalau malam bisa ditempuh sekitar 1,5 jam. Cepatnya. Saya turun di depan BTC Pasteur untuk melanjutkan ke rumah di Cijambe menggunakan taxi Gemah Ripah yang memang banyak tersedia di kawasan pasteur walau tengah malam. Sekitar 15 menit kemudian Alhamdulillah sudah sampai rumah dengan selamat. Untuk jarak sekitar 14km dari kawasan BTC Pasteur menuju rumah di Cijambe Ujung Berung, Argo taxi menunjukkan angka Rp. 47rb. Ah terasa sekali jiwa saya masih tertinggal di Padang, walau raga sudah di Bandung.

Apabila dari bandara Soekarno-Hatta Jakarta ke Bandung, saya lebih memilih menggunakan travel daripada menggunakan armada Bis Primajasa. Alasannya, walaupun menggunakan Bis Primajasa lebih murah sekitar 50rb dibanding travel, tetapi nanti sewaktu turun, lokasinya harus di Pool Bis yaitu di kawasan batu nunggal buah batu. Apabila sampainya tengah malam, sulit mencarii taxi yang menggunakan Argometer. Adanya taxi yang langsung nembak harga yang lumayan mahal. Door !

 

Pengalaman Pertama Sakit Gigi dan Klaim Asuransi Perawatan Gigi

Memang benar rasanya, sakit gigi itu benar-benar menyakitkan. Baru pertama kali saya merasakannya. Bermula dari kondisi gigi geraham bagian kiri yang memang bolong sekitar dua tahun lalu, sekitar bulan Juli 2013 kemarin harus Saya tanggung akibatnya. Senat-senut sepanjang hari, sepanjang malam sampai tidur saja susah. Kalau sudah terasa seperti itu, menyesal rasanya tidak rajin menggosok atau membersihkan gigi tiap malam sebelum tidur, hehe. Rasanya sakit gigi? kapok, tidak mau lagi pokoknya. Bayangkan saja, suara yang terdengar bisa membuat rasa sakitnya menjadi-jadi.

Penyebab sakit gigi saat itu kemungkinan karena sewaktu bulan Juni 2013 saya terlalu banyak makan daging rendang, maklum waktu itu cukup lama di Padang karena memang ada acara pernikahan Saya disana :) . Sebelum melakukan pengobatan ke Dokter Gigi, Saya hanya berinisiatif untuk menggunakan obat Cataflam, yang mana memang dapat menghilangkan rasa sakit gigi. Tetapi, obat tersebut hanya dapat menghilangkan sakit gigi sekitar 5 jam saja, setelah itu senat-senutnya terasa kembali.

Kondisi tersebut benar-benar sangat mengganggu. Terlebih lagi dengan aktifitas pekerjaan saya yang menuntut untuk berbicara. Bersentuhan sedikit saja gigi yang sakit tersebut dengan gigi yang lain, bisa membuat Saya meringis kesakitan. Belum lagi kalau mendengar suara berisik dari Mahasiswa/i, ondee mande tersiksa sangat rasanya.

Melihat kondisi tersebut, sang Istri pun menyuruh saya untuk melakukan pemeriksaan ke Dokter Gigi. Ya sudah, memang lebih baik saya obati ke yang ahlinya. Sewaktu berangkat bekerja dari daerah Cijambe Ujung Berung menuju kawasan Dago, Saya sambil melihat-lihat dimanakah Dokter Gigi yang buka setiap sore hari. Hal tersebut karena saya rencana akan melakukan pemeriksaan memang sepulang dari kantor. Alhamdulillah saya mendapatkan tempat praktek dokter gigi di sekitaran pom bensin Cikadut yang memang buka pada waktu sore hari, sekitar jam 16.00 s/d 19.00 WIB.

Pulang kantor Saya pun langsung mengunjungi tempat praktek Dokter Gigi tersebut. Nama tempat prakteknya yaitu Klinik 24. Saat itu langsung ditangani dengan baik oleh drg.Nita. Dokter Gigi lulusan kedokteran gigi UNPAD sekitar 2 tahun lalu. Dia pun tahu tempat saya bekerja karena dulunya Dia juga kuliah di sekitaran daerah sekeloa. Baru pertama kalinya sakit gigi, pertama kalinya masuk ke ruang Dokter Gigi. Awalnya perkiraan saya gigi yang bolong tersebut bisa langsung ditambal, tetapi ternyata salah. Sebelum ditambal, harus dilakukan terlebih dahulu perawatan akar gigi. Seperti apakah perawatan akar gigi itu? intinya adalah, gigi yang bolong tadi itu dibersihkan sampai akarnya yang terdapat di dalam gusi. Sewaktu dibersihkan juga harus di bor terlebih dahulu dengan menggunakan alat. Owh, bisa dibayangkan gimana rasanya? Sakit ya? Ah tidak juga, cuma ngilu saja sewaktu akar-akar gigi yang terinfeksi tersebut diangkat dengan menggunakan alat semodel jarum tumpul.

Untuk tahapan perawatan sakit gigi tersebut ternyata drg. Nita mengatakan tidak bisa sehari beres. Perlu beberapa kali kontrol. Saya disarankan untuk 3x kontrol untuk melihat kondisi akar gigi tersebut. Apabila akarnya sudah bagus, baru bisa ditambal. Saya pun mengiyakan saja. Karena masalah ini Saya serahkan saja ke yang ahlinya. Biaya setiap kali kontrol dan perawatan akar gigi sebesar Rp. 75 rb. Alhamdulillah, sepulang perawatan pertama gigi saya lumayan menurun sakitnya.

Sepulang dari klinik perawatan gigi, Istri pun bertanya. Gimana mas giginya? sudah diobatin?. Saya jawab sudah, tapi tidak bisa langsung ditambal karena harus dirawat dulu. Istri bertanya kembali, dimana berobatnya? siapa dokternya?. Saya jawab juga di Klinik 24 sama drg. Nita. Setelah dijawab seperti itu, Istri malah bertanya kembali, oh dokternya wanita ya. Cantik orangnya mas? Onde mande,kaget juga,  saya jawab saja dengan jujur, jauh lebih cantik istri mas nya dong. Istri pun senyum-senyum mendengarnya. ^^

Setelah sekitar tiga kali kontrol, maka kontrol ke empat sudah bisa dilakukan penambalan gigi yang bolong. Cukup lama penambalannya. Sekitar 2 jam karena saya pun meminta untuk dibersihkan sekalian karang gigi yang sudah bersarang selama 27 tahun ini, tak pernah dibersihkan sebelumnya, hihi. Total biaya yang dikeluarkan untuk semua perawatan sakit gigi sampai dengan penambalan dan pembersihan karang gigi, yaitu Rp. 625 rb. Saya pun lapor ke Istri mengenai biaya tersebut, karena keuangan memang di handle sama Istri tersayang. Ternyata, sang Istri menyuruh saya untuk meminta nota bukti pembayaran tersebut untuk dilakukan klaim asuransi. Wah, ini memang pertama kali saya sakit terus mengajukan klaim asuransi. Kebetulan, kantor istri tempat bekerja sudah disediakan asuransi termasuk untuk suami dan keluarga. Berbeda dengan kantor saya, tidak ada asuransi tetapi mendapatkan tunjangan kesehatan setiap bulan.

Waktu itu saya mengurus klaim asuransi sekitar bulan agustus. Klaim asuransi ternyata tidak sulit, hanya dengan mengisi form pengajuan klaim asuransi dari kantor istri saya bekerja, dengan melampirkan bukti nota pembayaran untuk selanjutnya dikirim ke pihak Asuransi. Alhamdulillah, semua biaya untuk pengobatan dan perawatan gigi saya yang berjumlah total Rp. 625 rb dibayar oleh pihak asuransi pada bulan September. Sebulan setelah mengajukan klaim.

 

Form Pengajuan Klaim dari Adira Insurance

Form Pengajuan Klaim dari Adira Insurance

Bukti Klaim Asuransi Adira Insurance

Bukti Klaim Asuransi Adira Insurance

 

Semoga sakit gigi ini tidak kambuh lagi. Aamiin.

 

 

Macet di Bandung yang tidak bisa diprediksi

Masalah yang ada di setiap kota besar salah satunya adalah kemacetan lalu lintas. Bandung, kota tempat saya merantau juga tidak bisa lepas dari yang namanya kemacetan. Apalagi akhir pekan, sudah bisa diprediksi bahwa lalu lintas di kota Bandung akan menjadi semakin macet karena diserang atau kebanjiran kendaraan yang berasal dari jakarta. Bisa lihat saja dari nomor plat kendaraan yang berseliweran di kota bandung pada hari sabtu atau minggu, kebanyakan yang platnya B (Jakarta).

Namun, berbeda hal nya dengan kemacetan yang bisa diprediksi terjadi pada waktu akhir pekan tersebut, kemacetan yang justru pada setiap pagi hari kerja, tidak bisa diprediksi. Pengalaman Saya selama ini berangkat kerja pagi-pagi dari rumah sekitar pukul 06.00 untuk hari Kamis dan Jum’at (karena kedua hari tersebut saya ada kelas jam 07.00), atau berangkat dari rumah jam 07.00, dari daerah sekitar Bandung Timur yaitu Cijambe Ujung Berung, menuju kantor di kawasan pusat kota daerah Jalan Dipatiukur, memang melintasi kawasan yang sangat ramai. Sepanjang jalan AH.Nasution misalnya, melewati kawasan padat dan biang kemacetan. Sebutlah kawasan pertigaan Pasir Impun, setiap pagi para penghuninya berangkat kerja dalam waktu yang bersamaan, kemudian pertigaan Cikadut, kawasan padat penduduk yang ada juga pertigaan menuju jalan AH. Nasution tersebut, menjadi biang kemacetan yang bisa sampai sejauh 2 KM menuju terminal Cicaheum. Lepas dari kemacetan yang ada di Cikadut, Saya juga harus dihadapi dengan kemacetan yang terjadi di kawasan terminal Cicaheum. Ya, terminal yang keberadaannya di pusat kota, banyak bis-bis besar untuk keberangkatan dari Bandung menuju kawasan Jawa bagian timur, yang tentunya menyebabkan kemacetan. Jangan lupakan juga perempatan pahlawan, yang lampu lalu lintas nya sering mati. Ondee.

Anehnya, pola kemacetan yang biasa terjadi pada pagi hari tersebut tidak bisa di prediksi. Artinya, terkadang hari senin itu macet sekali, tetapi ada waktunya juga hari senin malah lancar. Begitu juga untuk hari-hari selanjutnya dimana terkadang macet dan justru lancar. Atau bahkan hari-hari yang biasanya lancar, malah macet yang menjadi-jadi. Terbesit pertanyaan menyikapi masalah tersebut, sebenarnya kenapa bisa seperti itu ya ? Kenapa kadang hari-hari padat malah menjadi lancar? kenapa hari-hari lancar malah menjadi padat? Bagaimana sebenarnya pola kemacetan yang terjadi pada pagi hari dari daerah Bandung Timur menuju kawasan Gasibu/DipatiUkur/Dago ? Ada yang sudah melakukan penelitian mengenai hal tersebut?

Walaupun Saya berangkat dari rumah jam 06.00 atau jam 07.00 tetap juga sama seperti itu, terkadang macet, terkadang lancar. Tidak bisa diprediksi. Ah, yang penting selamat sampai tujuan :)