Sekitar 300 angkot dari Ujung Berung sampai Dipatiukur

By | 8 November 2013

Hari ini sewaktu Saya berangkat kerja, seperti biasa dihadapkan dengan kondisi yang padat disepanjang perjalanan dari daerah Ujung Berung sampai Dago. Banyaknya kendaraan yang memadati jalan dari arah Bandung timur, memang didominasi oleh kendaraan bermotor roda dua. Tetapi selain itu, keberadaan angkutan kota (angkot) juga lumayan banyak. Saya sengaja tadi pagi sewaktu berangkat ke kantor menghitung setiap angkot yang berpapasan dengan Saya, walaupun searah maupun beda arah. Konsentrasi saya pun bisa dikatakan terpecah, harus waspada dengan kondisi yang ada di depan, serta berusaha untuk menghitung angkot yang berpapasan.

Hasilnya, hasil penghitungan yang saya lakukan terhadap jumlah angkot yang saya temui mulai dari kawasan pertigaan Cijambe sampai dengan depan kantor di Jalan Dipatiukur, berjumlah kurang lebih 300 angkot. Apabila setiap angkot panjangnya sekitar 3,3 meter, maka kalau dihitung total angkot yang 300 tadi bisa sampai bisa 990 meter. Hampir 1km. Wow, banyak dan panjang juga ternyata ya. Itu hanya kalau angkot dari kawasan Bandung Timur saja. Coba bayangkan, berapa total angkot yang ada di Kota Bandung saat ini ya?

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu sumber kemacetan lalu lintas di Kota Bandung adalah banyaknya kendaraan yang ada tidak dapat diimbangi dengan fasilitas jalan raya yang tersedia. Saya tidak menyalahkan keberadaan angkot yang banyak tadi, karena angkot juga sangat bermanfaat sebagai sarana transportasi yang bisa diandalkan. Banyak angkot boleh, asalkan tertib saja dan tidak ngetem sembarangan.

Saya pribadi juga sering marah-marah (dalam hati tentunya), apabila banyak angkot yang ngetem sembarangan. Tentunya menyebabkan kecametan karena memakan space ruang jalan raya yang lumayan banyak. Tetapi dalam satu sisi Saya juga paham alasan mereka kenapa sering ngetem, ya apalagi kalau untuk menunggu penumpang. Kalau penumpangnya sedikit, ongkos operasional angkot akan lebih besar daripada pemasukan yang didapat. Ah, lagi-lagi berujung pada masalah “Uang”. Memang sih, uang itu bukan segalanya. Tapi semua perlu uang bukan? sama juga dengan para Supir Angkot yang pasti perlu uang untuk menghidupi keluarganya.

Entahlah siapa yang salah. Apabila dilihat dari sisi sebagai pengendara motor, keberadaan roda empatlah (termasuk angkot dan kendaraan lain) yang salah karena terlalu banyak memenuhi jalan raya. Belum lagi kendaraan roda empat tersebut sering terlihat parkir sembarangan di bahu jalan. Tetapi apabila dilihat dari sisi sebagai pengendara kendaraan roda empat, para pengendara motor juga sering ugal-ugalan, membahayakan dan sering tidak tertib, menyerobot jalur punya orang lain seenaknya. Bahkan salah satu teman saya yang sehari-hari berangkat ke kantor menggunakan mobil, merasa jengkel dengan gaya berkendara para pengendara motor. Seperti lalat hijau katanya. Hm, iya juga sih :D

Jadi, siapa yang salah? Ah biar tidak saling menyalahkan, kita salahkan saja “Uang”, Okey ?

Leave a Reply

Your email address will not be published.


− 5 = satu